Ceracau #19 Si Sulung yang Murung

Si sulung menangis. Tangannya yang gemetar memegang pensil itu dengan kuat, takut melakukan suatu kesalahan lagi yang berujung pada teriakan sang ayah apabila pensilnya jatuh barang sedetik saja. Sementara dadanya begitu sesak. Andai saja ia adalah tipikal anak yang mudah mengumpat, maka sudah ia lontarkan semua umpatan yang pernah ia tahu. Sayangnya ia bukan jenis bocah macam itu. Orang tuanya tegas mendidiknya menjadi anak baik. Anak yang tidak pernah mematahkan harapan mereka. Ia harus berhasil. Dalam urusan apapun. Termasuk menahan sakit hatinya bertahun-tahun.

Hari ini ia diberi pekerjaan rumah mata pelajaran Matematika oleh gurunya. Soalnya tak banyak. Juga tak sulit. Justru ia percaya diri ia akan mampu menjawab soal-soal itu dengan mudah. Hanya saja suasana belajarnya mencekam seperti biasanya. Bukan karena ia sedang berada di medan perang, bukan pula karena bila ia tak mampu menjawab satu soal maka habis sudah riwayatnya di sekolah itu. Ini tentang ayahnya. Ayahnya yang entah harus ia gambarkan dengan sosok yang bagaimana.

Teriakan demi teriakan terlontar dari mulut pria yang biasa ceramah Jumat dari masjid ke masjid. Sudah jelas ayahnya bukanlah orang yang tidak mengerti bahwa amarah adalah sesuatu yang tak semestinya terlontar begitu saja. Sudah pasti ayahnya paham bahwa marah dilarang dalam agama. Apalagi kepada seorang anak mungil yang kapasitas otaknya selalu saja dipaksa untuk seratus langkah di depan teman-teman sebayanya. Ia dipaksa dewasa lebih cepat, dijejali ilmu lebih dulu. Biarlah, otaknya terlanjur rusak. Masa bermainnya terlanjur dirampas.

Satu demi satu bulir air mata tumpah. Nafasnya mulai terengah-engah. Dalam hatinya terus-menerus mempertanyakan bagian mana dalam dirinya yang belum sempurna. Bagian mana yang masih bisa orang tuanya cari cacatnya. Hatinya susah. Ia merasa dirinya sangat payah. Sekaligus lelah dan merasa tak berguna. Tak pernah cukup baik untuk siapapun. Ia tenggelam dalam pikiran bahwa ia tak akan pernah membuat seorangpun bahagia. Terutama ayah mamanya.

Padahal urusannya sepele. PR Matematika. Itu saja. Ia tak mengerti mengapa sang ayah harus terus-menerus menggunakan nada bicara yang tak wajar. Mengapa ayahnya selalu mengumpat dan menanamkan label “bodoh” dalam dirinya. Ia tak cukup memahami mengapa ia harus menangis dan sangat membenci ayahnya saat ini. Padahal di lain hari ia mengerti bahwa itu semua untuk kebaikannya. Tapi harus beginikah caranya? Akankah ini berlangsung selamanya? Entahlah.

“Tujuh kali sembilan berapa!?”

Memang begitu. Selalu begitu. Pertanyaan itu justru terlontar dengan awalan tanda seru dibamdingkan tanda tanya.

Pensil yang belum diraut, penghapus yang entah hilang ke mana, atau buku yang terlipat di bagian pojoknya menjadi bahan cacian sang ayah. Dan kali ini, durasi ia berpikir juga mulai menjadi topik baru.

“Enam tiga! Jawab gitu aja lama.”

Sementara dalam hatinya sudah bergumam dua angka itu. Hanya saja ia tak cukup berani mengutarakan jawaban yang tepat. Takut salah. Takut suaranya yang payau malah menjadi bahan cacian di lain waktu. Ia takut dikata gembeng. Bukan anak yang kuat. Ah, rupanya memang ia tak akan pernah bisa sempurna.

Malam itu ia mengutuk apapun yang tertancap pada tubuhnya. Otaknya. Matanya. Tangannya. Bahkan hatinya. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak mampu membahagiakan orang tuanya. Ia benci tak bisa bekerja secepat kalkulator dalam menjawab pertanyaan ayahnya. Dan hal yang paling membuatnya membenci dirinya sendiri adalah: ia tidak bisa masa bodoh dengan semua keadaan itu. Ia cuma bisa menerima sambil menangis sejadi-jadinya.

Mamanya tidak mampu melakukan apapun. Hati ibu mana yang tak pilu mendengar anaknya dicaci dan dimaki. Tangannya ingin sekali menyentuh suaminya dan berkata, “Sudah mas, biar aku saja yang mengajarinya. Tak perlu kau sampai berteriak begitu. Tak perlu putriku sampai menangis karenamu.” Tapi malah sebaliknya. Perempuan yang usianya hampir menginjak separuh abad itu hanya bisa diam dan melihat putrinya berjuang dengan kebiasaan seperti ini tiap malam. Hatinya tersayat. Tapi ia tak bisa melakukan apapun selain menuruti cara mendidik anak ala suaminya.

Si sulung kemudian tumbuh dewasa. Dengan sifat yang entah bagaimana menjelaskannya. Ia merasa dewasa, tapi dalam lubuk hatinya tahu bahwa ia tumbuh dalam jiwa kekanakan. Ia tak pernah merasa sempurna dan selalu mengutuk keadaannya sendiri. Ia sangat perfeksionis, tapi mengorbankan banyak hal untuk hal-hal yang tidak semestinya. Ia tak punya teman. Atau punya beberapa, tapi untuk waktu yang singkat ia kemudian kehilangan mereka semua. Ia merasa tidak pernah menjadi baik untuk siapapun. Ia merasa bodoh dan sangat bergantung pada orang lain. Ia mencari kasih sayang kesana-kemari. Ia mencari rasa damai dalam kesabaran seorang laki-laki. Dan semakin ia menemukannya, semakin ia membenci ayahnya–ya ya meski lagi-lagi ia tahu bahwa di sisi lain ia juga mencintainya.

Dan ini terus berlanjut…
Hingga si sulung berusia kepala dua.

Dan cerita yang sama…
Terjadi kepada si bungsu.

Advertisements

Kaum Tersembunyi #5 Kita Tak Mau Lembur Mereka Tak Bisa Libur

Tahukah kita orang-orang yang seringkali kita lihat di jalan raya, di taman, di atas tiang listrik, atau bahkan di area pemakaman, harus menghabiskan berapa jam dari waktunya untuk bekerja? Atau  setidaknya, pernahkah kita sekali saja ingin mencari tahu jawabannya?

Tahukah kita bahwa tak semua pekerjaan di dunia ini mendapatkan jatah libur seperti yang seharusnya? Atau setidaknya, sadarkah kita ada mereka yang tak bisa berleha-leha saat tanggal merah seperti yang kita rasa?

Adalah mereka yang harus mengatakan kepada anak dan istrinya bahwa “Hari ini ayah tidak bisa pergi berlibur. Kita atur lagi nanti ya.” Sementara si anak mulai mengeluarkan wajah nelangsa. Terngiang dalam benaknya bahwa teman-teman sekelas akan mulai bercerita soal hari liburnya masing-masing.

Selain seperti yang aku katakan sebelumnya bahwa jam kerja yang mencapai dua belas jam menghabiskan waktu di hidup mereka, kali ini harus ada fakta baru yang harus kita terima bahwa: ternyata ada orang-orang yang tidak libur saat lebaran, natal, tahun baru, maulid nabi, imlek, dan hari besar lainnya.

Cerita ini diungkapkan oleh bapak yang aku lupa namanya. Katanya urusan perkomposan ini tak ada liburnya. Sebulan cuma boleh dua kali saja. Hari libur tetap masuk seperti biasa. Ternyata benar, 1 Januari justru menjadi hari paling sibuk selama saya ikut serta. Alih-alih bangun lebih siang, mereka malah bekerja keras mengeluh pantang.

Sedangkan kita sangat perhitungan. Disuruh lembur tak bersedia. Maupun belum tentu untuk urusan bekerja. Kalau ada intensifnya ya ayo saja. Nanti pekerjaannya apa kita ada-adakan saja ‘kan bisa.

Lagi-lagi, kita harus malu dibuatnya.

Kaum Tersembunyi #4 Melihat Lebih Dekat

Kemarin adalah hari yang bersejarah buat saya. Salah satu dari sekian hari yang akan saya ingat sampai mataku sayu. Termasuk pula jenis hari yang pasti akan kuceritakan pada si kecil nanti. Semata-mata agar mereka mengerti, bundanya ini tipe wanita yang bekerja–setidaknya–untuk dirinya sendiri.

Seperti hari-hari sebelumnya, saya berangkat pagi sekali menuju Kantor DKRTH Surabaya. Kali ini aktivitas yang akan saya jalani adalah mengikuti beberapa personel kebersihan kota. Tapi mengikutinya bukan macam surveyor biasa. Saya mengikuti truknya. Kemanapun ia pergi saya akan bersamanya.

Hehe mungkin terlalu lebay ya…

Setiap hari selalu ada tim penanaman yang bersama dengan truk bak terbukanya, mereka menyusuri lokasi yang telah ditentukan untuk mulai bekerja. Macam-macam yang mereka bawa. Kadang pohon palem kecil tapi juga pernah jenis pohon raksasa. Beserta peralatan menanam pada umumnya, mereka biasanya melewati jalanan dengan bercanda.

Foto pada judul post ini sudah tentu tidak menggambarkan realita. Truknya terlalu bagus dan canggih dengan berbagai fiturnya. Miliki bapak-bapak yang saya ikuti ini biasa saja. Malah sudah mengeluarkan asap mengebul setiap disuruh bekerja.

Kalau kalian melihat video di atas lantas menganggap itu berbahaya, it was, really. Saya juga cukup takut waktu merekamnya. Di lain sisi saya juga tak ingin kehilangan momentum berharga. Bagi saya ini membuka pikiran saya mengenai banyak peristiwa.

Tapi tetap bukan hal yang layak digunakan sebagai pembenaran. Jadi, ya, jangan ditiru, oke?
Soal bagaimana saya seharusnya melihat berbagai hal dengan lebih dekat. Soal bagaimana seharusnya saya tak mudah mengumpat. Soal bagaimana tak membiarkan amarah mengalir cepat. Soal bagaimana seharusnya kita menjalani hidup dengan tepat.

Sebab saat saya mengikuti mereka dengan motor saya sendiri, banyak sekali motor lain yang marah-marah pada saya. Dikiranya saya bermaksud untuk menyalip truk di depan mereka. Alih-alih menyalip saya malah santai menyetir agar tak kehilangan jejak. Mereka malah sampai ada yang berteriak.

Mbak, mas, pakbapak, buibu, maaf ya. Saya bukan berarti nggak bisa nyetir. Emang lagi ngikutin truk yang di depan 😦

Saya sih percaya bahwa bagaimana sikap saat di jalanan itu menentukan pengelolaan emosi seseorang. Disalip sedikit marah. Menggerutu kalau sedang lampu merah. Tak sabaran pada orang menyeberang. Atau kadang mengambil jalan yang merupakan hak lain orang.

Saya jadi membayangkan diri saya sendiri. Ah betapa sering saya mengeluhkan hal mirip seperti ini. Ibu-ibu yang riting ke kanan padahal ingin ke kiri. Mbak-mbak yang menyetir seperti siput dan membuat saya menggerutu “Duh lama sekali.” Atau gerombolan bapak-bapak yang santai menyetirnya. Tapi diruas kanan yang notabene bukan untuk jalur berlama-lama. Dan beberapa kali pada mas-mas yang mengebut kencang dengan suara knalpot sekaligus sumber polusi udara.

Bisa jadi memang si ibu terpaksa menggunakan motor karena harus menjemput anaknya–dan yang bisa melakukannya hanya dia. Bisa jadi si mbak-mbak pernah kecelakaan hebat hingga trauma. Bisa jadi bapak-bapak itu sedang mengurus sesuatu yang begitu penting baginya. Urusan surat-menyurat dan dunia perdokumenan dengan pemerintah, biasanya. Bisa jadi pula mas-mas itu tak punya kendaraan lantas meminjam milik temannya. Sedangkan ia dikejar waktu karena harus segera menyaksikan istrinya melahirkan anak pertama.

Atau sederhana saja. Bisa jadi di antara mereka adalah surveyor biasa. Sama sepertiku. Dan mungkin masih ada segala kemungkinan cerita lain yang tak aku tahu.

Dan seringkali aku sebal sendiri bila jalanan sedang ditutup dan harus berakibat pada kemacetan. Sebal bila ada urusan perbaikan jalan atau urusan lain yang sebelumnya tak aku perhatikan. Ternyata urusan-urusan macam itu juga untuk kebaikan. Akunya malah sebal karena tak bisa pulang dan makan.

Aku rasa kita perlu melihat lebih dekat sebelum kita benar-benar memutuskan kepada siapa kita mengeluarkan amarah kita. Namun ekspresi emosi apapun yang tercurah harus juga ditelaah. Benarkah? Sudah tepatkah? Bisa jadi ada permasalahan yang tidak kita mengerti. Lantas yang demikian jangan menjadikan kita orang yang keras hati.

Kaum Tersembunyi #3 Tahunnya Baru Tapi Moralnya Begitu Melulu

Masih belum hilang dari ingatan kita mengenai perayaan malam tahun baru yang digelar di seantero kota-kota sedunia. Pasalnya, perayaan semacam ini sudah menjadi perihal biasa atau bahkan seperti kewajiban bagi beberapa orang yang meyakininya. Model perayaannya juga begitu melulu. Kembang api, terompet, dan ungkapan-ungkapan resolusi tahun baru. Dan satu lagi yang tak pernah ketinggalan. Tumpukan sampah bekas perayaan.

Kemarin, salah seorang teman saya mengunggah suatu post mengenai jumlah sampah pada saat perayaan tahun baru. Sebenarnya sejak memutuskan untuk mengikuti proyek pemerintah pada bidang kebersihan ini, saya sudah merasa bahwa pekerjaan mereka tentulah akan menjadi lebih berat pada malam itu. Aha dugaan saya tepat rupanya. Masyarakat kita ini entah harus dengan apa menyebutnya. Tahunnya sih baru, tapi moral masih sama.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan agaknya menjadi hal yang lumrah di mata masyarakat. Padahal slogan, poster, baliho, dan segala tetek-bengeknya sudah diajarkan sejak usia empat. Tapi hingga kepala usianya yang menginjak angka empat, orang-orang ini masih saja belum sadar. Bahwa semua banjir terjadi bukan karena alasan tak berdasar.

Ayolah bapak ibu mbak mas teman-teman, sesusah itukah membuang sampah pada tempatnya?

Tapi tenang, selalu ada sesuatu yang patut kita syukuri. Jumlah sampah tahun baru Surabaya yang tak sebanyak Jakarta, misalnya. Hal ini semakin memperkuat opiniku sendiri. Aku tak mau tinggal di sana karena dipenuhi lautan manusia–dan sampahnya.

Solusi dari pemerintah tentu juga bukan solusi berupa ajakan semata. Saya pribadi yakin jumlah tong sampah yang disebar sudah disebar ke seantero kota. Dan sungguh, berjalan beberapa langkah menujunya tidaklah sulit. Yang sulit adalah mengingatkan orang yang suka berkelit. Ah sampah cuma satu aja. ‘Kan ada mereka yang dibayar untuk membereskannya.

Pagi 01 Januari 2018, saya melihat seorang bapak yang cukup tua membersihkan sampah bekas perayaan. Tangannya yang renta berusaha mengayunkan sapu yang ia gunakan. Ah miw mungkin kamu justifikasi, belum tentu semuanya bekas tahun baru. Ah mungkin kamu benar, tapi kok sejauh mata memandang yang terlihat terompet melulu.

Banyak dari orang-orang ini yang mungkin kurang didikan sejak usia dini. Teringat beberapa hari yang lalu seorang anak kecil sedang dibonceng bapaknya menggunakan skuter mini. Si anak kemudian membuang dengan sembarangan sisa makanan yaitu biji kedondong. Dan sang bapak justru diam saja dong. Saya cuma bisa memungut sampahnya sambil geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian eh sang bapak membuang plastik bekas minumannya.

Ya sudah, mari kita istighfar saja.

Sekali-kali kita perlu membayangkan sedang berganti peran. Kitalah yang esok seusai tahun baru harus menyapu dann kelelahan. Sementara bayangkan saja bapak penyapu itu adalah kita yang merayakan–dan sok tak tahu aturan. Kita harus bangun sangat pagi untuk bekerja. Kemudian melihat hasil kemarin malam yang penuh hura dan foya. Sementara kita sambil berpikir soal banyak hal yang tak sederhana. Berapa banyak rupiah yang bisa dihemat dari kesia-siaan malam kemarin, misalnya. Berapa banyak makanan yang bisa dikonsumsi untuk beberapa hari–tapi malah harus terbuang karena si empunya yaaa ingin membuang saja, misalnya.

Mayoritas dari orang-orang ini educated people–atau at least pernah mengenyam pendidikan . Tapi membereskan sampah sendiri saja tak mau melakukan. Harusnya kita malu. Dan menatap kaca hingga hati kita pilu. Ah, betapa tak bermoralnya saya.

Maka sejak sekarang kita harus mulai memastikan. Setidaknya sebelum kita mempunyai keturunan dan menjadi teladan. Bahwa urusan moral ini telah selesai. Pembuktian pada diri sendiri bahwa kita orang pandai.