Ceracau #23 Good at Everything

Pagi ini aku melakukan kesalahan besar yang sudah aku putuskan untuk berhenti sejak beberapa bulan lalu. Sebuah perilaku yang membuatku pada akhirnya merasa bahwa kebodohan ini seperti tak henti-hentinya mengikutiku. Sebab ini sesuatu yang sangat tidak penting. Saking tidak pentingnya, aku suka merasa bahwa jangan-jangan ini penyakit. Penyakit memperhatikan orang-orang di masa lampau milik orang … Continue reading Ceracau #23 Good at Everything

Ceracau #22: Tidak Sabaran

Ketika menulis ini jariku seperti sedang mengikuti lomba lari. Belum lagi degup jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Kalau saat ini aku sedang bicara, pasti struktur kalimatku sudah tak karuan. Pilihan katanya amburadul. Disertai dengan tiga kata di akhir cerita khas milikku: ya nggak sih? Menunjukkan kehausan agar orang selalu sependapat denganku. Sebab sekali … Continue reading Ceracau #22: Tidak Sabaran

Kemarin aku menangis karena hal yang tak kusangka akan kutangisi: aku merindukan rumah padahal kapanpun aku boleh saja kembali, aku merindukan keluarga padahal mereka selalu setia menanti kapan aku tak 'sibuk' lagi. Sementara saat menangisinya, aku sedang menyaksikan keluarga yang lain–berbahagia bersama dalam pandanganku yang belum menjadi bagian dari mereka.

Ceracau #21 Kendalikan Dirimu, Almira.

Kadang aku tahu bahwa dengan 'merasa' berilmu terkadang akan memberiku pembenaran bahwa justru aku tidak benar-benar mengerti tentang ilmu itu. Dengan menunjukkan pada khalayak ramai akan menjadi salah satu cara untuk membohongi diri sendiri agar terus-menerus ada tuntutan menimba ilmu. Mungkin bagi sebagian orang aneh. Mungkin kamupun ingin mencibirku bahwa niatku tak tulus. Tapi aku … Continue reading Ceracau #21 Kendalikan Dirimu, Almira.

Sabar atuh, Miw. Semua orang 'kan punya masanya masing-masing. Fokusnya ke diri sendiri aja ya. Jangan sering melihat apa yang orang lain sudah capai. Amati kebiasaannya. Pelajari apa yang membuat dia sampai ke sana. Jangan putus asa. Sebentar lagi Miw juga bisa menyelesaikan misi hidup. Hiduplah yang bahagia. Kesedihan bukan untuk dinikmati dan dibiarkan. Terima … Continue reading

#8 Produktif + Kontributif

Ah, beneran lho. Kalau Allah sudah berkehendak, yang akan terjadi maka terjadilah~ Baru saja minggu ini dapat materi soal produktivitas hidup dari IIP, eh semua yang mampir di kehidupan saya (teman-teman, media sosial, pembicaraan, dan diskusi) tiba-tiba berisi tentang what will I be? Because just be yourself is not enough, darling.  Setelah memikirkan akan jadi apa … Continue reading #8 Produktif + Kontributif

#7 Siapa Saya Menentukan Bagaimana Kedepannya

Bismillaahirrahmanirrahiim, sebelum memulai membahas minggu ke tujuh ini (Alhamdulilaah, Maha Baik Allah sudah menguatkan saya sampai pada tahap ini :'), saya ingin lebih dulu curhat sedikit (karena banyaknya mau dibikin post sendiri rencananya wkwk) mengenai pertemuan saya kemarin dengan bunda hebat matrikulasi 5 Surabaya Raya 😀 Jadi, hari Minggu, 11 Maret 2018 kemarin kami mengadakan … Continue reading #7 Siapa Saya Menentukan Bagaimana Kedepannya

#6 Manajer Andalan Bernama Ibu

Dahulu, saya termasuk orang yang benar-benar menjadikan karir sebagai pencapaian hidup saya. Saya biasa aktif di organisasi kampus dan hal tersebut m,enjadikan saya yakin bahwa ketika berkeluarga nanti pun saya akna tetap berkarir di luar rumah. Saya tidak mungkin menyandang gelar "Ibu Rumah Tangga" saja. Mengenai anak, saya dengan mudah berpikir bahwa nanti 'kan bisa dititipkan … Continue reading #6 Manajer Andalan Bernama Ibu

#5 Belajar Menjadi Pembelajar, Agar Kemudian Tak Kesasar

Ternyata, menjadi salah satu anggota pembelajar di Institut Ibu Profesional tidak semerta-merta menjadikan kami orang yang lebih berilmu dibandingkan yang tidak berkesempatan untuk mengikuti kelas ini. Mengapa bisa saya katakan seperti ini? Karena ternyata, hingga minggu ke lima sekalipun, belajar dan segala tetek-bengeknya masih terus menerus dibahas dan bagi saya pribadi menjadi reminder bahwa "Almira, jalanmu untuk … Continue reading #5 Belajar Menjadi Pembelajar, Agar Kemudian Tak Kesasar